Minggu, 21 Agustus 2016

Manusia yang Berdiri di Persimpangan Jalan

Putih terlalu terang dan hitam terlalu gelap, hari ini Saya berdiri pada persimpangan jalan. Untuk mengucap halo pada seseorang dan mengucap selamat tinggal ketika Ia mulai kembali pada kehidupannya.

Tapi kemudian Saya sadar, hidup bukan hanya mengenai orang lain. Tapi bagaimana Saya sendiri merasa senang. Mungkin saja saat ini Saya sedang berada pada persimpangan jalan orang lain. Mencoba untuk tetap tinggal, dan nyatanya diam-diam Saya beranjak pergi meninggalkan orang tersebut.

Saya belum bisa memilih apakah kanan adalah selalu hal yang baik atau kiri adalah selalu hal yang buruk, seperti saat kecil kita diajarkan bagaimana tangan yang bagus untuk makan. Setahu Saya itu hanya konstruksi. Saya juga tidak tahu apakah putih selalu terang dan hitam selalu gelap seperti yang Saya sebutkan sebelumnya.

Saya bimbang. Tapi yang Saya tahu, Saya sedang jatuh cinta pada diri Saya sendiri. Pada sesuatu yang telah lama terpendam di diri Saya. Kebebasan. Beberapa tahun terakhir, Saya mencoba mencari sendiri apa artinya kebebasan dan pada hari ini Saya puas dengan kebebasan yang Saya definisikan itu sendiri. Menulis dengan liar, bercengkrama dengan jiwa dan pikiran Saya sendiri, berbicara pada seseorang yang mencintai Saya sejak Saya lahir.

Akhirnya, Saya tuliskan tulisan ini untuk siapapun yang mencari di mana Saya berada. Saya masih di sini, di persimpangan jalan kalian. Semoga kalian berkenan tetap dan menjadi kawan Saya dalam pikiran Saya, seperti halnya dua arah yang kemudian akan kembali meski menapak pada jalannya masing-masing, seperti seseorang yang merindukan rumahnya sehingga Ia tahu ke mana harus pulang. 

Sabtu, 09 Juli 2016

How to Be Single in Real Life.


-How to be single-. 

Film ini menceritakan tentang beberapa perempuan dan seorang laki-laki yang kehidupannya berada pada masa-masa sendiri mereka. Ada yang memilih sendiri karena harus menjauh dari pacarnya, ada yang memang lebih senang dengan kesendirian (dan lebih senang dengan kehidupan one night stand), ada yang memilih sendiri karena mencari pasangan terbaik, dan yang memilih sendiri karena (sepertinya) Ia cukup merasa sulit berada dalam komitmen hubungan.

Beberapa hal yang bisa dipetik dari film ini, dan sedikit membuat saya tersenyum adalah banyak orang berusaha sekuat tenaga untuk menjadi bahagia dalam kesendiriannya. Tapi apa? Mereka menggunakan cara orang lain, yang akhirnya adalah membuat mereka sendiri bingung dengan posisi mereka. Dalam keadaan saya saat ini (yang akhirnya) memilih untuk sendiri, film ini cukup berpengaruh pada diri saya karena saya merasa mungkin dengan cara-cara seperti itu saya bisa bahagia (mengenal lelaki lain, mengenal dunia yang benar-benar menghibur, mengenal apa yang saya sama sekali belum pernah temui sampai saat ini). Tapi, sesungguhnya kebahagiaan itu ada pada diri saya sendiri. Ketika saya mengikuti apa yang saya mau, saya merasa menjadi manusia bebas. Dengan dukungan dari (terutama) orang tua saya mengenai pilihan-pilihan hidup saya, saya rasa ini semua sudah cukup untuk membuat saya bahagia.

Saya belum ke mana-mana. Sama seperti orang-orang yang memilih sendiri lainnya. Saya masih di sini dengan tentunya hati dan pikiran yang baru. Jika kemarin saya banyak memikirkan tuntutan pernikahan, hari ini saya merasa bebas. Saya tidak perlu memahami orang lain untuk membuat saya bahagia. Toh saya bisa berdiri dan merdeka di atas diri saya sendiri. Mungkin, hanya belum waktunya saya untuk mengenal orang lagi.

Kebebasan, seperti yang dijelaskan dalam film ‘how to be single’ ini menurut saya cukup abstrak, karena sejauh-jauhnya kita melangkah dan semakin kita mencari kebebasan, sesungguhnya kita masih mengikat tuntutan di punggung kita. Entah memang tuntutan atau keinginan untuk tidak sendiri. Kadang, ketika kita sudah memilih untuk sendiri, ada banyak orang yang membuat kita yakin bahwa sendiri bukanlah pilihan yang baik, seakan kita harus hidup dengan bantuan orang lain.

Pada akhirnya, seperti yang terjadi hari ini. Saya berusaha untuk memulai pelan-pelan menghapus keinginan itu dan berusaha membuat jawaban untuk tuntutan yang diberikan pada saya. Kebebasan menurut saya pada akhirnya ada pada batasan-batasan diri sendiri, sejauh mana ia melangkah dan dimana letak garis penjaga yang selama ini dipasang. Kalau saya, garis itu sudah entah ke mana adanya. Maka saya harus berlari, meninggalkan garis awal, dan mengejar garis-garis kebebasan itu. Meskipun sampai hari ini saya tidak tahu seberapa jauh lagi saya harus berlari mengejar garis itu.
Saya bimbang, tapi hari ini saya tahu bahwa saya bebas.


Jumat, 01 Juli 2016

Tumpahan Pikiran

Jika ada yang bertanya, apa yang saya tinggalkan untuk masa lalu saya. Maka jawabannya adalah kenangan itu sendiri. Saya berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tingkat tertinggi dalam menyakiti hati saya sendiri. Saya sadar, hati saja tidaklah cukup untuk mencintai seseorang. Kamu juga harus menggunakan logika. Dan jika masih ada yang bertanya kenapa saya meninggalkan orang yang hampir  5 tahun bersama saya tersebut, mungkin akan menemui jawabannya di sini.

Saya dalam keadaan kacau balau saat ini, merasa benar-benar sendiri di antara kerumunan yang bercakap-cakap. Saya cepat lelah dan ingin segera pulang memeluk bantal supaya saya merasa aman. Saya merasa aman ketika saya sendirian. Karena ketika saya sendiri, saya mampu bercakap-cakap dengan diri saya sendiri. Saya bisa menulis apa yang saya suka, dan benar kata orang bahwa menulis adalah obat untuk meredam sakit hati.

Bertahun-tahun saya selalu belajar untuk meningkatkan kepercayaan diri saya dan belajar untuk mencintai diri saya sendiri di balik masa lalu saya yang cukup kelam. Dan ketika ada seseorang yang merusak usaha saya, jangan pernah Tanya kenapa saya tiba-tiba menghilang, siapapun dia.

Tapi saya merasa sepi, justru ketika saya mengedepankan logika dibandingkan hati saya. Tapi toh mungkin ini hanya sementara saja. Dalam proses ini saya merasa menjadi lebih dewasa, beberapa tahun terakhir saya merasa harus memiliki “kawan” untuk dimiliki. Dan sekarang saya merasa sendiri lebih baik dibanding memiliki “kawan” yang tidak satu visi dengan saya.

Di usia saya yang segini, dan tingkat kematangan pikiran saya, entah kenapa jadi banyak orang yang bertanya kepada saya “kapan kawin?”. Dan saya benar-benar menjawabnya nanti, mungkin di usia 25 tahun ke atas. Beberapa manusia membuat saya takut akan pernikahan. Saya tidak tahu kenapa saya bukan lagi manusia yang sebelum ini, yang selalu berkata ingin menikah cepat-cepat. Sekarang, saya merasa kalau saya bukanlah dia. Menikah bukanlah sekedar menyatukan dua pihak berbeda menjadi satu, lebih dari itu.. sangat rumit. Dan sekarang saya sangat takut untuk mengenal orang lain, karena rasanya akan sama. 

Selasa, 10 Mei 2016

Media and their perspectives to sexual violence survivors.


Today we all hear about Y. A girl who raped and murdered by 14 man (including 6 boys on it). I don't have a word to say. We are living in a wrong society. Because people keep talking about the dress we wore or the time we walked out. Nobody talks about what is wrong with the rapist.

Y is one of a million victims of sexual violence that ended in murder. Nobody talks about Y, before one of Indonesian feminist, KT, started a mini video campaign on #NyalaUntukYY and it followed with solidarity action in Monas (4/5). Media had so many stories to write about. It started from Y's case stories, the solidarity action, until the coverage about Y's  personal life.

They started to write about Y. Some of them still write the original name of Y and write the chronology of Y's rape case in detail.

Some of you may think I am too much to write about this. There are so many victims out there who will get trauma after read the chronology of Y's case. Rape is very hurtful, even though the victims didn't die.. But they actually feel dead indeed.

Several years ago I had been being a victim of sexual abuse. It happened when I was at 6th grade. I always say that I am a survivor because until now, I still fight with my past. I always say to my self that I am worth it. This is my body and it is in my authority. No one can touch me again without my permission. That is why I have concern in 'concent' issue. Some people thinks 'concent' is still taboo, but for me it is very important.

Back to media perspective about Y. Sometimes, it makes me remember my story. It was really hurtful and I hope they realize it. Hope the gov will ratify the planning article about sexual violence (RUU Penghapusan Kekerasan Seksual) soon.

Btw, here I add some pictures from the solidarity actions in Monas, last week (4/5/2016):


My friend is holding a poster. It said "Save Our Sister". 


Simponi is playing their song "Sister In Danger".

The activists are holding poster "Stop Kekerasan terhadap Perempuan!"

"Nyalakan tanda bahaya!"

Rabu, 13 April 2016

Cerita Tentang Malam yang Resah

TENGAH MALAM begini saya masih duduk di depan laptop. Memandangi timeline twitter dan facebook, lalu sesekali menggerutu dan memaki dalam hati.  Sesekali lagi saya mencoba untuk menyelesaikan pekerjaan yang harus diselesaikan beberapa hari lagi. Kemudian kembali menatap timeline media sosial itu. Seperti berharap ada sesuatu yang dapat saya baca. Namun rupanya tidak. Rupanya  guyonan seksis  lebih menarik dibagikan oleh kawan-kawan saya di facebook dibandingkan informasi bermanfaat. Entah bagaimana dulu saya bisa berkawan dengan mereka di facebook.

Malam kemarin dan beberapa malam sebelumnya saya membaca berita, pekerjaan sampingan saya di luar menjadi mahasiswa yang belum lulus-lulus ini. Berita mengenai kekerasan seksual. Perlahan-lahan saya mulai terlelap walaupun bacaannya belum selesai. Di sini ceritanya dimulai.

Beberapa kali saya membaca berita mengenai kekerasan seksual, tentunya dengan diikuti umpatan dari mulut saya untuk si pelaku. Menganalisa berita kekerasan ini tidak semudah melihat bagaimana tone berita hari ini mengenai perusahaan kita. Lebih kompleks dari itu, melibatkan hati dan juga otak yang harus selalu berjalan beriringan. Mungkin saya lelah, sampai akhirnya tertidur sendiri.

Mimpi saya aneh. Malam pertama, saya sangat terhina dengan mimpi saya sendiri. Pasalnya, dalam mimpi itu saya digambarkan menjadi seorang plagiat dalam sebuah karya tulis saya. entah apa maksudnya. Malam kedua saya mimpi disidang untuk penelitian saya. sungguh, ini bukan rekayasa. Hasilnya menggantung, mungkin Tuhan sedang menyolek saya untuk kembali melihat penelitian saya yang memang sebentar lagi akan disidangkan.

Entah bagaimana hubungannya, tapi akhir-akhir ini saya merasa mendapatkan tekanan yang sangat tinggi dari diri saya sendiri. Selain karena memang sedang memikirkan hasil penelitian saya, berita yang saya temui di analisa media tersebut ternyata diam-diam membawa saya pada pengalaman buruk yang pernah saya alami beberapa tahun lalu. Tepatnya, saya pernah menjadi korban bully-ing di masa-masa SMP saya karena tubuh saya yang dianggap tidak pantas untuk anak SMP.

Hidup tidak bisa seadil yang saya pernah bayangkan ketika saya kecil. Dulunya saya menganggap dunia akan indah saja meskipun saya beranjak dewasa. Nyatanya tidak. Terpapar realitas membuat saya semakin mengutuk diri sendiri yang  hanya bisa diam. Hari ini saya membaca berita ibu-ibu petani dari sebuah daerah yang datang ke Jakarta untuk bertemu presiden, untuk bicara mengenai penolakkan warga mengenai pembangunan pabrik semen di daerahnya. Memasung kaki mereka menggunakan semen sebagai bentuk bahwa pabrik semen tersebut kelak akan memenjara mereka, sama seperti yang dilakukan oleh pasungan tersebut. Padahal wilayah itu adalah milik mereka sendiri dan di sanalah mereka hidup, mencari makan, dan beristirahat.

Saya hanya bisa tercengang, menangis, dan sampai saat ini mengungkapkan kekesalan saya melalui tulisan. Meski tulisan ini tidak beruntun.. tapi memang ini yang saya butuhkan sebagai cara menyembuhkan jiwa saya yang mungkin –kelak pada waktunya- akan benar-benar tidak dapat sembuh. Tidak ada solusi yang dapat saya berikan dari tulisan ini, karena memang tulisan ini adalah tulisan kedepresian saya dalam melihat realitas. Saya takut akan realitas. Misalnya di depan saya ada jam yang menujjukkan pukul 12.44. Sedangkan besok pagi saya harus tetap menyelesaikan tugas yang tertunda. Dan entah kenapa, saya mulai takut dengan diri saya sendiri sekarang. Mungkin sudah saatnya tidur dan berimajinasi kembali.




Senin, 11 April 2016

Jilbab dan Pilihan

Akhir-akhir ini, kita kerap mendengar pertanyaan bahkan pernyataan yang memojokkan perempuan-perempuan tidak berjilbab. Mereka dipertanyakan keislamannya, mereka diberikan cap sebagai orang-orang yang belum menaati perintah agama. Tidak jarang orang-orang yang gembor mempublikasikan ini menggunakan bantuan visual yang mengerikan, seperti contohnya gambar seorang perempuan yang dibakar api neraka akibat tidak menggunakan jilbab.

Jilbab adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk menggunakannya atau tidak. Di sini saya tidak ingin menggunakan kata ‘perempuan yang belum menggunakan jilbab’ karena kalimat tersebut merujuk pada kalimat yang seakan mendorong dan memiliki keinginan semua perempuan untuk menggunakan jilbab.

Jilbab menurut Saya, sama selayaknya pakaian lainnya.. sama seperti topi, scarf…. Kita bebas menggunakannya ataupun tidak. Kita berhak untuk mengajak orang lain, tapi ingat hak kita juga dibatasi oleh hak orang lain. Jika seseorang tidak ingin menggunakan jilbab, biarlah. Itu pilihannya.

Saat ini jilbab dijadikan ukuran kecantikan yang baru oleh masyarakat kita, mungkin sebagian pembaca sudah sadar dengan hal ini. Tapi, biar Saya gambarkan pengalaman-pengalaman Saya dan pengalaman orang lain yang saya lihat. Seorang perempuan akan dianggap sempurna jika Ia menggunakan jilbab (tertutup), prilakunya santun, rajin ibadahnya, dan selalu keluar kata-kata bertema agama dari mulutnya. Mereka dianggap sebagai sosok yang sempurna, sehingga beberapa laki-laki yang berfantasi akan hal tersebut mengaminkan sosok kesempurnaan itu. Selanjutnya, aturan yang harus ditaati oleh ‘perempuan sempurna’ ini adalah tentunya tidak merokok, tidak minum alkohol, tidak sering ke tempat hiburan malam, dan juga beberapa hal yang dianggap masih tabu oleh masyarakat kita. Jika melanggar, maka gugurlah sosok tersebut. Mereka akan mendapatkan stigma perempuan yang tidak baik-baik. Perempuan dikotak-kotakkan dan diberikan kelas. Seakan kita bukanlah manusia  yang sama seperti dunia laki-laki. Pemikiran ini kelak diaminkan oleh beberapa perempuan. Miris.

Kemudian, saya juga kerap mendengar mengenai perbandingan perempuan satu dengan perempuan lainnya yang diibaratkan dengan permen ataupun kue di pasar. Yang satu kue di etalase dan tertutup, dan yang satunya lagi kue di emperan dan terbuka.. dilaleri.. kue yang pertama adalah perempuan berjilbab, dan perempuan yang kedua adalah yang tidak berjilbab. Analogi macam apa ini? tidak masuk akal, bagaimana bisa manusia disamakan dengan benda?

Kaitannya dengan pembahasan sebelumnya, di sini saya mencoba menjelaskan bahwa memang dunia ini sayangnya milik laki-laki. Perempuan bahkan tidak memiliki ruang untuk memilih apa yang diinginkannya. Kita, toh bukan hanya objeknya laki-laki bukan? Kita manusia merdeka dan dapat menentukan sendiri definisi cantik kita tanpa harus melihat definisi yang dibuat sebagian laki-laki tersebut.


Saya adalah pengguna jilbab, dan ini adalah bentuk ungkapan perasaan saya yang selama ini kecewa.. yang dianggap paling suci, dan jika saya melakukan sesuatu di luar definisi suci tersebut, saya akan sangat dihina-hina. Penggunaan jilbab ini adalah salah satu bentuk kebebasan berekspresi saya. saat ini, saya nyaman dengan saya yang seperti ini. urusan dosa atau mendapat pahala, saya rasa itu sudah menjadi Hak Tuhan untuk memberikannya. Saya harap  tulisan singkat ini dapat mewakilkan keresahan saya selama ini. 

Kamis, 07 April 2016

Ketika Pertanyaan ‘Kapan Kawin?’ Sudah Melampaui Batas.



“Kapan kawin? Temen-temennya udah punya anak tuh.”
“Kapan kawin? Emang mau jadi perawan tua?”
“Kapan kawin? Ih pacaran lama gak bagus, banyak zinah!”

Tidak jarang bagi kita, anak muda yang umurnya berkisar antara 22 seterusnya mendapatkan pertanyaan tersebut dari orang-orang terdekat kita. Bahkan dari orang yang sama sekali kita tidak kenal. Tidak dapat dipungkiri pertanyaan seperti itu juga kerap mengganggu pikiran kita yang sebelumnya menganggap pernikahan bukanlah hal yang menjadi prioritas. Bukan semata-mata terganggu karena merasa ingin segera menikah juga, namun risih!

Sebagai anak muda yang sebentar lagi menginjak usia 22 Tahun, Saya sendiri kerap mendapatkan pertanyaan seperti itu dari kawan, saudara, orang tua, hingga orang yang Saya baru kenal. Beberapa di antaranya beralasan karena Saya sudah terlalu lama menjalin hubungan dengan partner Saya. Beberapa di antaranya sedang berada pada euphoria ‘asik nikah muda’. Pada tulisan ini Saya tidak akan menyalahkan pihak yang ingin menikah muda ataupun sebaliknya. Saya hanya akan mengemukakan pikiran dan alasan mengapa sebenarnya pertanyaan ‘Kapan Nikah’ ini harus dikurangi dan bahkan dihapuskan.

Dari banyaknya pertanyaan ‘kapan nikah?’ yang dilontarkan kawan-kawan saya, tidak jarang saya menjawab dengan nada datar ’nanti umur 29 tahun!’, atau jika dalam keadaan sabar yang tinggi Saya akan menjawab ‘ya nanti, abis Saya kerja!’. Sungguh, tidak ada jawaban yang benar-benar serius Saya lontarkan untuk pertanyaan ini.

Pernah Saya membaca sebuah artikel yang menjelaskan bahwa pertanyaan seperti ini sesungguhnya telah melanggar hak privasi seseorang. Orang di balik pertanyaan ini seakan ingin mengusik orang yang ditanya-nya dengan pertanyaan tersebut. Sesungguhnya, apa sih keuntungan yang didapat dari penanya jika yang ditanya memang segera akan menikah? Ini perlu dikaji kembali, apakah pertanyaan ‘kapan kawin’ ini memiliki arti sendiri atau Cuma pertanyaan basa-basi?

Permasalahan lainnya pada pertanyaan ini kerap menjurus pada perlakuan memojokkan posisi perempuan. Pada dasarnya, posisi perempuan dalam sistem masyarakat kita ada di kelas dua. Perempuan ‘dinikahkan’, bukan ‘menikah’. Kedua hal tersebut jelas berbeda. Dinikahkan adalah seakan-akan perempuan tersebut tidak punya hak atas dirinya sendiri, Ia diambil, dinikahkan, dimiliki, dan dibawa pulang oleh orang yang menikahkan. Sedangkan menikah adalah komitmen dua pihak yang sama-sama ingin terikat di hukum dan agama.

Menikah di usia tua ataupun muda (di atas usia matang) tidaklah masalah, asal memang atas persetujuan dua belah pihak. Dan keduanya tidak ada yang terpaksa dalam pernikahan tersebut. Banyak loh anak-anak yang menjadi korban pernikahan anak di bawah usia semestinya, sayangnya Negara kita kalah dengan aturan-aturan lainnya. Padahal hal ini akan berbahaya pada pengantin perempuannya, yang beresiko meninggal di usia dini. Mungkin kita harus berkaca karena terlalu mempermasalahkan moral orang dibandingkan melihat dampak panjang dari permasalahan tersebut. Masyarakat kita kerap terjebak pada anggapan jika tidak dinikahkan muda, maka Ia akan berzina. Menurut Saya, apapun alasannya Hak pendidikan anak harus tetap diberikan. Menikahkannya di usia muda hanya akan memotong Hak pendidikan tersebut. Dampaknya? Banyak. Salah satunya pemiskinan perempuan karena Hak pendidikannya dipotong.

Membahas mengenai ‘perawan tua’ karena lama menikah. Saya cukup kecewa jika ada kawan yang berbicara seperti ini di depan Saya. Kenapa? Orang itu telah melanggar hak seorang perempuan untuk memilih dirinya menikah di usia berapa, terlebih lagi Ia juga melanggar hak perempuan untuk memilih apakah dirinya akan menikah atau tidak. Kata ‘perawan tua’ seakan menghakimi perempuan bahwa Ia adalah makhluk menyedihkan yang seharusnya telah lama menikah. Kita hidup di dunia dimana perempuan menjadi kelas dua sehingga Ia tidak dapat berdiri dan menentukan dirinya sendiri. Untuk itu stigma semacam ini harus dilawan.

Jika boleh menjawab, pertanyaan kenapa Saya tidak ingin turut dalam trend ‘nikah muda’ yang sedang berkembang saat ini, pertama sudah dijelaskan sebelumnya Saya ingin menikah bukan dinikahi. Sehingga dengan alasan ini Saya punya Hak untuk menentukan kapan Saya akan menikah dan bagaimana perjalanan hidup saya.

Ohya, Saya selalu turut bahagia dengan pernikahan siapapun. Beberapa kawan ada yang merasa aneh jika membicarakan masalah pernikahan dengan Saya karena dianggap Saya kontra dengan pernikahan muda. Tidak, Saya tidak kontra sama sekali. Setiap orang punya Hak untuk memilih.

Akhir kata, Kita tidak pernah tahu bagaimana latar belakang kehidupan seseorang. Mungkin saja kamu bertemu dengan orang yang menganggap ‘kapan kawin’ itu sebagai  pertanyaan penting dan harus segera di selesaikan, padahal orang itu masih punya sejuta mimpi yang harus digapai. Tapi karena pertanyaanmu yang membuatnya kepikiran, Ia rela menomerduakan mimpinya untuk menjawab pertanyaanmu. Mungkin ini bisa menjadi bahan renungan sebelum bertanya kembali ‘kapan kawin?’ ke orang yang sama.