Rabu, 06 April 2016

Di Balik Panggung Andy F. Noya

Sumber Gambar: nasional.kompas.com


Judul Buku: Sebuah Biografi Andy Noya: Kisah Hidupku
Penulis: Robert Adhi KSP
Editor: Andina Dwifatma
Penerbit: Penerbit Buku KOMPAS
Tahun Terbit: 2015

Kita mengenalnya sebagai Andy Noya, pembawa acara program “Kick Andy” yang selalu diidentikkan dengan dirinya. Dalam program tersebut, Andy kerap mengundang tokoh-tokoh inspiratif untuk ditampilkan kepada publik. Tokoh-tokoh yang menginspirasi tersebut datang dari berbagai latar belakang dan ditampilkan ke hadapan publik untuk memperlihatkan sisi baik kehidupan. Bahwa masih ada perjuangan dan kebaikan yang menginspirasi di balik banyaknya permasalahan kehidupan.  

Andy dikenal sebagai sosok yang dapat melontarkan pertanyaan-pertanyaan tajam kepada tamu dalam acaranya, namun tetap dalam gaya yang santai. Bahkan Ia juga kerap menyelipkan humor di balik pertanyaan-pertanyaan tajamnya itu untuk mencairkan suasana.

Di balik “panggung”nya yang banyak bercerita mengenai kisah kesuksesan orang lain, rupanya Andy juga memiliki banyak cerita dalam panggung kehidupannya sendiri. Cerita-cerita tersebut sangat inspiratif meskipun harus melewat perjalanan panjang, sehingga Ia dapat mencapai pada posisinya saat ini.

Kisah Sewaktu Kecil

Kisahnya dimulai dari masa kecil Andy yang kerap mendapatkan perlakuan diskriminasi karena alasan Ia anak keturunan Belanda, saat itu memang semangat melawan penjajahan Belanda dari arek-arek Jawa Timur masih cukup kental. Tidak berhenti di situ, cobaan hidup juga dialaminya setelah ayah dan ibunya berpisah, sehingga Ia harus menjalani masa-masa sulit untuk pindah satu tempat ke tempat lainnya mulai dari Surabaya, Malang, Jayapura, hingga Jakarta.

Pada waktu perpindahan dari satu tempat ke tempat lainnya tersebut Andy banyak mengenal kawan. Mulai dari yang membawanya pada dunia yang gelap hingga kawan yang menginspirasi. Tidak sedikit cerita ditemukan bahwa pada masa kecilnya Andy sempat menjadi anak yang nakal, selain karena minimnya pengawasan orang tua, juga karena dukungan dari kawan-kawannya. Puncak kenakalannya itu hampir mengarah ke tindakan kriminal. Ajaran tindakan kriminal ini didapatkannya dari kawanan ‘geng tiga bersaudara’, yang di kemudian hari sempat membuat Andy babak belur karena berusaha untuk meninggalkan kawanan ini.

Karir Cemerlang Andy

Minatnya pada bidang jurnalistik sudah terlihat semenjak Ia menduduki bangku Sekolah Dasar, kekuatan itu tumbuh bersama dengan dukungan moral seorang guru yang hingga sampai detik ini selalu diingat oleh Andy. Ialah ibu Ana, guru SD Andy yang memiliki pengaruh besar pada minat Andy di bidang jurnalistik. Saat Andy kalah dalam kompetisi antar kelas, Ibu Ana datang menghampirinya dan menguatkan Andy untuk tidak bersedih, Ia mengatakan bahwa Andy anak yang pandai dan memiliki talenta dalam menulis. Jika dikembangkan, suatu saat nanti Andi bisa menjadi wartawan katanya.

Setelah lulus dan menjadi lulusan terbaik dari salah satu Sekolah Teknik Menengah (STM) di daerah Jakarta, Andy mendapat tawaran beasiswa untuk bersekolah di IKIP Padang, namun keinginannya untuk menjadi wartawan lebih besar dan semakin meledak ketika Ia membaca artikel mengenai Sekolah Tinggi Publistik (STP) di sebuah majalah.

Saat masuk ke Sekolah Tinggi Publisistik ini, keinginan untuk terjun langsung ke dunia jurnalistik Andy semakin tinggi. Ia mulai menjadi reporter kontrak untuk proyek buku Grafitipers, “Apa dan Siapa Orang Indonesia”. Pada kesempatan itulah Ia menunjukkan kemampuannya dalam menulis dan berhasil mewawancarai sejumlah orang penting di Indonesia. Kelak Ia juga dimintai bantuan untuk menjadi editor dalam proyek ini.

Andy memiliki pengalaman jurnalistik yang cukup beragam. Karirnya dimulai pada saat pertama kali Ia mencoba masuk di harian ‘Prioritas’, namun karena alasan surat izin penerbitan yang mandek, akhirnya Andy memilih mencoba kembali di media ekonomi ‘Bisnis Indonesia’. Setelah bekerja di ‘Bisnis Indonesia’, Ia kemudian pindah ke majalah ‘Matra’ yang isinya mengenai gaya hidup. Setelah selesai pada majalah ‘Matra’ ini, Andy bekerja pada perusahaan yang dimiliki Surya Paloh, mulai dari media cetak harian hingga pada media elektronik.

Percobaannya untuk masuk ke harian Prioritas kala itu membawa pertemuan Andy dengan pemilik media yang Ia sebut mirip dengan “Che Guevera” itu. Setelah perkenalan dengan Surya Paloh tersebut, kisah mengenai kehidupan Andy ini banyak berisi cerita tentang ketika Ia bekerja dengan Surya Paloh. Mulai dari ‘Media Indonesia’ hingga akhirnya keluar ide dari Surya Paloh untuk membangun ‘Metro Tv’.

Andy dalam buku biografinya ini banyak memberi ruang untuk bercerita mengenai Surya Paloh. Ia menuturkan bahwa Surya Paloh adalah pemimpin yang egaliter dengan bawahannya. Dibuktikan dari hasil-hasil perdebatan antara Andy dan Surya Paloh, meskipun Surya Paloh adalah atasan Andy, Ia banyak menerima masukan dari Andy. Bahkan bukan hanya Andy saja, namun juga dari bawahan-bawahannya yang lain.

Pengalaman di bidang Jurnalistik Andy yang cukup panjang membuat idealismenya semakin kokoh. Ia selalu berjanji pada dirinya sendiri untuk memegang teguh prinsip-prinsip dasar yang sudah lama Ia tekuni, termasuk pada permasalahan pemberian amplop yang kerap dilakukan narasumber. Dengan tegas ia akan menolaknya. Hal ini juga ia terapkan ketika ia memimpin, di saat ada anak buahnya yang mencoba bermain dengan masalah amplop tersebut, Ia tak akan segan-segan mengeluarkan anak buahnya meskipun itu kawan baiknya atau bahkan anak emas sang pimpinan.

Pada akhir buku ini, diceritakan bahwa Andy memulai kehidupan lainnya sebagai pegiat sosial, untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Sebenarnya pekerjaan sosial sudah dilakukan sebelumnya melalui ‘Kick Andy Foundation’ , namun Ia dan istrinya kemudian membangun kembali komunitas baru yang dibiayai dari kantong pribadinya.

Pemaparan Realitas

Banyak kisah-kisah terselip dalam buku ini yang menggambarkan realitas kehidupan sesungguhnya. Misalnya mengenai kasus “suap” yang Andy saksikan sendiri dari guru STM-nya pada masa Ujian Akhir. Kemudian ketika tumbuh dewasa, praktek “suap” ini rupanya muncul juga di dunia Ia bekerja sebagai jurnalis. Kisah-kisah Andy yang dipaparkan dalam buku ini mengajarkan kepada pembaca bahwa dalam menghadapi permasalahan seperti ini, seseorang harus memiliki prinsip hidup yang kuat dan juga ketegasan. Terutama kasusnya saat seseorang menjadi Jurnalis yang dituntut untuk menjadi netral, saat Ia memiliki ‘hutang budi’ pada satu pihak, Ia akan sulit untuk menjadi objektif.

Buku ini juga banyak menceritakan mengenai permasalahan nasional dan bagaimana sudut pandangnya dari segi jurnalistik. Misalnya dalam bercerita kasus bentrok kedua kubu PDIP pada 27 Juli 1996 dan pada masa referendum Timor-Timor, dari kedua kasus nasional ini Ia sebutkan bahwa media harus memiliki sikap. Memiliki sikap bukan berarti membela semaunya, namun dalam konteks ini adalah membela yang benar dengan pemberitaan harus tetap objektif. Pembaca dibuat bukan hanya membaca kisah hidup Andy, namun juga mendapatkan informasi bagaimana menegakkan idealisme bersama di atas sebuah kasus yang penuh dilema. Apalagi saat permasalahan PDIP itu masih di bawah kuasa rezim orde baru.

Pemaparan pada buku ini banyak menunjukkan realitas lainnya yang dekat dengan kehidupan masyarakat seperti kemiskinan, dijabarkan lewat kisah Andy melalui gaya penulisan buku yang mudah dicerna. Sudut pandang “aku” membuat seakan-akan Andy adalah penulis dari buku ini dan dekat dengan pembaca. Pembagian tulisan dalam sub judul membuat emosi pembaca turun naik. Jika diawali dengan cerita yang menyedihkan, penulis kemudian mampu membagi dan menyelipkan guyonan dalam sub-bab tulisan-tulisan yang terkesan ‘tidak ada kaitannya’, padahal itulah yang membuat emosi pembaca naik turun.

Sayangnya, alur waktu pada buku ini masih belum terlalu jelas. Waktunya maju mundur dan tidak diberikan konteks waktu yang jelas. Sehingga pada beberapa bagian dapat menimbulkan kebingungan pembaca. Namun kekurangan ini juga tidak mengurangi substansi buku, karena buku ini telah mampu memberikan banyak manfaatnya dan mampu menjabarkan jawaban atas tujuan untuk menginspirasi orang lain.


Selasa, 13 Oktober 2015

Kenangan untuk Mahar.

Siang itu di sebuah lapangan luas dan dikelilingi ilalang, muncul bangunan yang berdiri dari beberapa kayu yang tersusun. Tidak lama sebelumnya, bangunan itu digunakan sebagai latar sebuah drama yang menceritakan kisah anak-anak di kampong kami, Belitung. Cerita yang membuat masyarakat kota sadar bahwa masih ada ketidakadilan dalam hal pendidikan, yang membedakan untuk si miskin dan si kaya. Semua orang dibuat senang dengan pemandangan indahnya, sekaligus dibuat prihatin dengan kenyataan pahit masyarakat pinggiran.

Anak itu yang bermain menjadi Mahar, seorang anak SD yang membawa radio ke mana-mana, menyukai musik jazz, dan kerap menggunakan kata ‘boi’ di setiap percakapannya dengan kawan sekelas. Ia sangat periang, tapi jangan pernah sekali-kali memanggilnya manja. Dia akan diam dalam kemarahannya, walaupun beberapa saat kemudian Ia akan mengeluarkan lawakan-lawakan baru dari mulutnya.

Kami melalui hari yang indah. Selama beberapa tahun pergi ke sana, saya baru pertama kali memiliki niat untuk benar-benar belajar budaya belitong. Tidak perlu jauh ke Bali sana untuk menemukan keindahan ini, kampong saya pun juga punya. Saya kembali ke Jakarta, sedangkan Mahar masih di sana untuk melanjutkan sekolahnya. Pertemuan kami sebelum saya pulang, umak (ibu mahar) mengingatkan untuk jangan pernah melupakan mereka. Saya berjanji, setelah pertemuan itu kami sudah seperti saudara.

Hingga pada saatnya, saya mendengar bahwa Mahar harus pergi meninggalkan dunia ini. Justru saat Ia sedang berada di Jakarta untuk melanjutkan studinya di salah satu sekolah seni terkenal di Jakarta. Beberapa kali kami bertemu, hingga akhirnya, lebaran tahun 2014 Saya dan keluarga pulang ke Belitung. Tidak lupa, saya mengabarkan adik saya, mahar untuk bertemu kembali. Kami bertemu, Mahar datang ke rumah di saat puasa, saat itu ia dan kawan-kawannya sedang meminta sumbangan untuk apa Saya juga lupa.

Siang itu, untuk pertama kalinya saya meminta mahar untuk bertemu Pak cik Andrea Hirata di museumnya. Mahar menyetujui dan kami pergi ke sana. Kebetulan saat itu pak cik memang sedang ada di museumnya untuk renovasi bangunan. Sama seperti saya, ternyata itu adalah pertemuan pak cik yang terakhir dengan mahar.

Ruangan itu semakin sempit, banyak kenangan. Banyak sesuatu tentang mahar di sana. Bukan Verrys. Tapi mahar. Entah kenapa, ruangan-ruangan museum itu selalu membuat saya ingin pergi ke sana. Bukan untuk melihat jejeran piala. Tapi untuk duduk sejenak, mengingat di mana awal kami jumpa dan di mana akhir kami jumpa. Masih dalam suasana laskar pelangi. Mahar mengantarkan dan memperkenalkan saya dengan sekolah muhammadiyah, lascar pelangi saat pertemuan pertama. Pada pertemuan terakhir, mahar mengantarkan saya ke museum kata milik andrea hirata, yang jelas sekali isinya tentang laskar pelangi.


Sampai saat ini saya masih tidak percaya akan kematiannya yang penuh kenangan. Belum sempat saya mengunjungi rumah kosannya di Jakarta, dia harus pulang terlebih dahulu. Semoga dirimu selalu tenang di sana. Kami sayang kamu Ver. Buatlah bidadari tertawa, seperti kamu memberikan tawa pada umat manusia.  

Minggu, 19 Juli 2015

MENGENAL KULINER KHAS TANGERANG

Jika berjalan-jalan ke Tangerang, tidak lengkap rasanya jika kita tidak mencicipi makanan-makanan yang ada di kota ini. Karena memang di kota ini, terdapat banyak sekali kuliner yang dapat kita kunjungi satu-persatu. Banyak lokasi yang menyediakan kuliner-kuliner terkenal di Tangerang, mulai dari kuliner kaki lima hingga kuliner yang sudah masuk ke dalam mall. Penyebarannya pun cukup jauh. Tapi biasanya di tiap daerah di kota ini, akan ada satu lokasi di mana semua kuliner-kuliner tersebut bisa kita datangi. Untuk lokasi kuliner kaki lima, pusat terlengkapnya bisa kita temui di pasar lama, Tangerang. Kalau pagi kita berkunjung ke pasar ini, kita akan menemukan beberapa makanan seperti lontong sayur, bubur ayam, sampai nasi bakar. Kue-kue basah juga dijajarkan rapih di sana, mulai dari jajanan khas Tangerang, sampai jajanan daerah semua ada di sana. Ditambah lagi, kalau pagi-pagi kita ke sana, kita bisa sekaligus menikmati berbelanja pagi di dalam pasar yang berjualan bahan-bahan makanan mentah. Bahkan ada juga yang membuka rumah makan yang menjual sate dan juga es khas Tangerang di dalam pasar tersebut.

Dari sekian banyak makanan yang dijual dan ramai dikunjungi, ternyata ada makanan yang benar-benar memang berasal dari daerah Tangerang sendiri. Yang pertama adalah laksa khas Tangerang dan juga nasi jagal. Mendengar nama laksa mungkin tidak asing lagi di pikiran kita, tapi siapa yang sangka rasa dari makanan khas Tangerang ini tidak kalah enak dari laksa di kota lain.

Mendengar kata laksa, sepertinya tidak asing lagi di telinga kita. Karena memang makanan ini sudah terkenal sebelumnya menjadi makanan khas melayu. Tidak banyak perbedaan dari kedua makanan yang berasal dari daerah yang berbeda. Sama-sama berlemak menggunakan santan untuk kuahnya. Tapi, sebenarnya jika kita benar-benar ingin mengetahui apa perbedaan dari kedua makanan beda asal ini, kita harus mencobanya dan hasilnya kita akan menemukan perbedaan rasa dari kedua makanan ini.

Menyantap laksa rasanya kurang pas jika tidak tahu bagaimana sejarah laksa ini, dan apa perbedaan dengan laksa dari melayu. laksa ini adalah makanan khas peranakan masyarakat Tionghoa dan Melayu. Terdapat dua jenis laksa Tangerang, yang pertama adalah Laksa Nyai dan Laksa Nyonya. Laksa Nyai dibuat oleh kaum pribumi asli Tangerang, sedangkan Laksa Nyonya, dibuat oleh kaum peranakan Tionghoa di Tangerang. Sebenarnya, laksa kota Tangerang ini telah berkembang sejak ratusan tahun lalu, tapi sayangnya sampai saat ini belum ada yang membukukan sejarah lahirnya laksa di kota ini. Pada tahun 1970-an, laksa banyak dijajakan oleh pedagang sembari keliling kota Tangerang, namun seiring perkembangan zaman, laksa mulai tergeser dengan jenis makanan lain yang cepat dimasak, dan jauh lebih murah. Sehingga pada 20 tahun yang lalu, makanan khas Tangerang ini sempat hilang dari peredaran. Tepat setelah tahun 2000an, makanan ini mulau muncul kembali di banyak tempat, apalagi ternyata rasanya yang memang sudah punya tempat di hati masyarakat Tangerang, ditambah lagi dukungan pemerintah setempat yang mencoba mengembangkan kembali kuliner dan budaya khas Tangerang.

Berbeda dengan jenis laksa khas melayu yang biasanya menggunakan ikan untuk kuahnya, laksa Tangerang menggunakan kuah sayur bersantan yang ditambahkan kacang hijau, daun kucai, dan juga sambal serundeng (olahan kelapa parut). Warna kuahnya juga tidak terlalu kuning seperti kuah laksa betawi ataupun laksa melayu. Perbedaan lainnya adalah pada mie yang digunakan. Jika biasanya laksa hanya menggunakan mie biasa, laksa khas Tangerang ini menggunakan mie yang terbuat dari beras, jadi rasanya tidak terlalu lemas seperti mie pada umumnya, tapi juga tidak terlalu kaku. Ketika kita memesan satu porsi laksa khas Tangerang, tidak lengkap rasanya jika tidak ditambahkan ayam atau telur rebusnya. Bisa dilihat ayamnya tidak langsung direbus bersama dengan kuah laksanya, namun dibakar terlebih dahulu. Maka dari itu, rasa ayamnya lebih gurih  ditambah dengan serundeng yang sudah digabung di dalam kuahnya. Perpaduan ini membuat makanan laksa khas Tangerang terasa lebih  gurih dan nikmat. Komposisi kuah, isi, dan juga mie di dalam laksa tangerang inilah yang akhirnya membuat rasa laksa tangerang berbeda dengan laksa dari daerah lainnya. Laksa tangerang biasanya lebih terasa kasar, tapi juga lembut ketika berada di lidah kita. Kolaborasi antara kuah surendengnya dengan tekstur mie yang tidak halus membuat rasanya juga semakin gurih.

Tidak sulit untuk menemukan lokasi penjual laksa khas Tangerang ini. Di pasar lama, biasanya ada yang menjual di pagi hari. Tapi, kalau hari sudah mulai berganti siang, kita bisa datang langsung ke lokasi penjual makanan khas tangerang ini berkumpul. Tepatnya di jalan raya Moh. Yamin Tangerang (persis di depan LP perempuan). Di lokasi ini, kita bisa menemukan banyak penjual laksa khas Tangerang, hanya tinggal selera kita untuk memilih yang mana.

Ada satu lagi makanan khas Tangerang yang tidak begitu familiar di mata masyarakat awam. Lokasi penjualannya yang cukup jauh juga membuat makanan ini kurang begitu dilirik oleh masyarakat Tangerang di daerah selatan, maupun kabupaten. Nama dari makanan ini adalah nasi jagal. Kenapa dinamakan nasi jagal? Karena biasanya lokasi penjualan nasi ini selalu berada di depan tempat jagal hewan (sapi ataupun kambing). Aslinya bentuk makanan ini nasi yang disiram dengan kuah manis, namun sekarang ini banyak rumah makannya yang memperbarui menjadi nasi goring jagal, dengan bumbu dan rasa yang hampir sama dengan nasi jagal polos. Harganya tidak begitu mahal, karena memang isi dari kuahnya ini bukan hanya daging asli, tapi juga ada campuran bagian lain dari sapi, yang membuatnya semakin berlemak.


Komposisi dari nasi jagal ini adalah nasi putih, disiram dengan kuah nasi jagal yang rasanya mirip-mirip seperti abon sapi, tapi juga ada rasa seperti kuah semur (karena memang menggunakan kecap ketika memasaknya), lalu bagian-bagian sapi, dan tambahan bawang goreng serta kerupuk udang. Kurang pas rasanya jika makan nasi jagal tanpa sambal yang dibuat oleh si penjual. Justru seni makan nasi jagal ada di sambalnya. Sambalnya khas pedas, tanpa campuran tomat. Sambal ini juga bisa membuat rasa nasi jagal yang awalnya manis berubah menjadi sangat-sangat pedas. Untuk lokasi penjualannya, memang sedikit sulit untuk ditemui. Warung-warung yang berjejer ini bisa kita temukan di depan dinas peternakan kota Tangerang, kecamatan Bayur. Lokasinya tepat berada di belakang bandara Soekarno Hatta dan juga melewati pintu air 10 di belakang gedung Cisadane kota Tangerang.  

Wisata Tradisional kota Tangerang

Pemandangan gedung-gedung tinggi pencakar langit sepertinya sudah menjadi hal yang biasa dilihat oleh warga kota Tangerang. Seakan tidak mau kalah dengan ibu kota yang berlomba-lomba membangun gedung-gedung tinggi dan megah, Tangerang pun merasa perlu untuk membangun bangunan-bangunan itu. Mulai dari Tangerang selatan hingga Tangerang kota, tidak sedikitpun dalam jalan utama Saya menemukan bangunan tradisional yang masih dilestarikan. Seakan tidak rela untuk menyisakan sedikit saja fisik bangunan untuk menjadi sebuah sejarah untuk orang-orang di masa depan kelak.

Pagi itu, matahari sudah mulai terbit dan semakin lama semakin terik. Hari itu juga untuk pertama kalinya Saya akan berjalan-jalan ke daerah yang masih menyimpan bangunan tradisional di Tangerang, tempat yang Saya belum pernah tahu keberadaannya sebelumnya. Mengandalkan artikel-artikel yang Saya dapatkan dari Google, tujuan pertama yang saya datangi adalah pusat kota Tangerang tepatnya ke pasar lama. Memasuki kawasan pasar lama, sudah banyak pedagang yang menjejerkan dagangannya di pinggiran jalan. Entah itu makanan berat, makanan ringan, hingga minuman. Semua berbaris rapih seakan-akan mengantre untuk dicoba satu-persatu. Pandangan Saya tertuju pada sebuah gerobak bertuliskan ‘es podeng’ yang baru saja sampai di depan sebuah ruko. Ternyata ini toh es dari pasar lama yang banyak direview para food blogger dengan tanggapan positif itu. Pandangan saya kembali menebar ke seluruh sudut kawasan pasar lama, dan menemukan beberapa makanan untuk sarapan di sana.

Setelah puas sarapan dengan makanan-makanan yang ada di jalan raya pasar lama, Saya pun mulai kembali mencari-cari lewat gadget, wisata tradisional yang unik yang berada di sekitaran Tangerang.  Sebuah artikel yang membuat Saya tertarik dengan isinya, bermula dari sebuah penemuan gambar masjid yang lebih mirip dengan istana. Di situ tertulis, masjid ini kerap disebut sebagai masjid seribu pintu karena memang jumlah pintunya yang banyak mengitari bangunan tersebut. Penasaran dengan apa yang akan saya temukan di sana, Saya mengajak teman-teman sekaligus untuk berwisata ke sana untuk mematahkan persepsi bahwa kota Tangerang tidak punya bangunan tradisional untuk belajar sejarah.

Perjalanannya lumayan cukup panjang, tapi tidak begitu jauh. Itulah khas tata pembangunan kota di Tangerang. Melewati sebuah pintu air yang berada di belakang bandara soekarno hatta, hari itu saya pertama kalinya menginjakkan kaki di daerah Bayur. Begitu memasuki kawasan bayur, perjalanan jadi terasa begitu sepi. Hanya kendaraan yang lalu lalang melintasi jalan itu, dan jarang ada yang berhenti untuk mampir. Keadaannya sangat sepi, kanan kiri berdiri pabrik-pabrik yang luas sekali bangunannya dan dilanjutkan dengan hamparan-hamparan sawah yang telihat begitu kering karena mungkin belum saatnya panen. Sampai di tepi jalan, petunjuk jalan yang kami gunakan menunjukkan bahwa kami harus belok ke arah kiri, memasukki gang yang cukup sempit untuk menjadi sebuah gerbang lokasi wisata. Mungkin hal ini yang juga membuat sampai hari ini, wisata tradisional di kota Tangerang tidak begitu banyak diketahui oleh masyarakatnya, termasuk Saya. Matahari sudah cukup terik, seakan hanya berada 5 cm di atas kepala, mengakibatkan perjalanan harus dilanjutkan dengan tetap menggunakan kendaraan ke dalam lokasi wisata. Sepanjang perjalanan dari gerbang depan hingga ke dalam bangunan masjid seribu pintu, kami melihat suasana yang tenang dan tentram. Sebuah senyum, pasti kami dapatkan dari sekian banyak warga yang kami temui di sana. Warga di sana sangat ramah dan sangat peduli dengan orang lain, termasuk orang baru seperti kami. Beberapa dari mereka juga menunjukkan kami jalan menuju bangunan  masjid seribu pintu itu. Sesampainya kami di ujung jalan, sebuah gerbang dengan Tulisan bahasa arab sudah menyambut kami terlebih dahulu. Di dalamnya, ada beberapa rumah warga yang dibangun persis bersebelahan dengan bangunan tua itu, setidaknya keramaian itu membuat kami merasa tidak takut untuk melangkah lebih dekat ke sana.

Seorang kakek-kakek tua duduk di balik sebuah meja, dengan beberapa senter yang berada di atasnya.  Kakek itu sedang bercerita dengan pengunjung lainnya, bercerita tentang sejarah bangunan tua ini. Kakek ini adalah salah satu warga sekitar yang bekerja sebagai guide bagi wisatawan yang akan berkeliling di dalam banguanan ini. sebelumnya, kami harus membeli senter untuk dapat masuk ke dalam gedungnya, terlihat dari luar memang bangunan ini berisi lorong-lorong gelap tanpa pencahayaan dan lembab. Dimulai dari sebuah ruangan yang terlihat modern, diisi oleh beberapa barang-barang yang modern pula, kakek ini bercerita bahwa ruangan tersebut adalah hasil renovasi dari bangunana sebelumnya. Kami memasukki lorong-lorong ruangan lainnya, di sebelah kiri ada sebuah ruangan khusus untuk bertasbih, melakukan ibadah. Kakek ini juga bercerita bahwa bangunan ini dulunya adalah masjid yang dibangun oleh para pemuka agama tanpa menggunakan desain terlebih dahulu. Beberapa pintu di luar dan bangunan di dalam banyak menggambarkan angka ‘999’, tidak pernah diketahui apa arti sebenarnya Angka 999 itu. Namun, orang-orang di sekitar sana menyebutkan bahwa angka tersebut merupakan penggabungan jumlah asma Allah yang berjumlah 99 dan 9 wali songo. Memasuki bangunan ini, sebenarnya kita sedang melakukan wisata rohani, mengelilingi satu persatu lorong dengan ratusan pintu. Setiap lorong di dalam masjid ini memiliki petunjuk jalan masing-masing, dan dari salah satu ruang lorong itu akan membawa kita menuju ruang bawah tanah yang disebut ruang tasbih. Tidak banyak lampu di dalamnya, bahkan beberapa lorong memang seperti sengaja gelap dan lembab, membuat lorong-lorong yang sempit itu menjadi terasa dingin walaupun di siang hari yang panas. Bukan hanya dapat berkeliling di masjid ini, kita juga bisa melakukan ibadah di ruang-ruang tertentu. Tempatnya sangat sunyi dan tentram. Seakan kembali ke masa lalu, masa di mana bangunan masjid yang tak berkubah ini baru dibangun pertama kali, seakan bercerita bagaimana perjuangan ulama-ulama menyebarkan agama dengan memulai membangun masjid dengan biaya dari kantungnya sendiri.  

Dari perjalanan yang sangat mengesankan ini, Saya dapat menarik sebuah cara pandang baru untuk melihat tangerang. Ternyata, di balik bangunan-bangunan tinggi dan megah yang kota Tangerang miliki, ternyata masih terdapat juga bangunan-bangunan tradisional yang memang punya banyak sejarah di baliknya. Bukan hanya wisata rohani, namun juga wisata budaya. Tangerang memang kota yang benar-benar mewah dengan perbedaan. Tidak pernah ada sedikitpun cekcok walaupun ada berbagai etnis dan agama yang mendominasi di sini. Jika ada perayaan orang-orang cina benteng, masyarakat sekitar juga ikut terlibat dan ikut dalam kegiatan yang dilakukan, begitupun sebaliknya. Saya baru benar-benar jatuh hati dengan kota ini, kota yang nyaman, berbudaya, dan juga berakhlakul karimah. Tangerang bukan semata-mata kota yang bisa dipandang sebelah mata karena hanya tidak sama dengan kota Jakarta sebagai ibu kota ataupun kota lain yang terkenal akan wisatanya, tapi Tangerang adalah kota yang nyaman dan berbudaya yang pantas untuk dibanggakan dengan berjuta keberagaman di dalamnya.



Tangerang Jasa!




                                    Image and video hosting by TinyPic
Company Profile
Tangerang Jasa (TJ) adalah sebuah gerakan yang dibangun oleh sebuah komunitas. Saat ini, TJ sendiri bergerak di bidang pengembangan wisata seni budaya serta kuliner kota Tangerang. Tangerang jasa dibuat dengan tujuan untuk memberikan informasi secara menyeluruh kepada publik luas mengenai kota Tangerang, khususnya di bidang wisata dan kuliner. Penyebaran informasi tentang Tangerang diberikan dalam bentuk yang menarik, seperti newsletter, blog, serta video sebagai pendukung tulisan-tulisan di blog.
Selain bertujuan untuk memberikan informasi kepada publik, TJ juga bertujuan membantu pemerintah dalam bidang pemasukan anggaran daerah. Tujuan ini dicapai dengan cara mengkomunikasikan tentang kota Tangerang, hingga melakukan branding “kota wisata dan kuliner” untuk kota Tangerang itu sendiri.
TJ mulai dibentuk dari awal tahun 2015, dan kemudian berjalan dari pertengahan tahun 2015 hingga saat ini. Awalnya, TJ terbentuk berdasarkan ide dari sekelompok mahasiswa yang melihat peluang, bahwa daerah Tangerang punya daya jual di bidang wisata dan kuliner yang tinggi. Hingga saat ini, TJ telah menyebarkan newsletter dan juga artikel beserta video tentang Tangerang melalui blog yang dapat diakses dihttp://tangerang-jasa.tumblr.com .
Tagline
LIVE in Tangerang

Dan ini adalah proyek Ujian Akhir kami berupa video Newsrelease


Melestarikan Budaya Lewat Kesenian

Seni tidak harus selalu tinggi. Setidaknya itu adalah kalimat pertama yang muncul di benak ku tentang seni  yang menghiasi  tembok jalan di  kota Tangerang.  Menelusuri  jalan di  sekitaran Pasar Lama, pandangan mata terhenti pada sebuah gambar unik yang dibuat di atas sebuah tembok seukuran rumah dua tingkat. Lalu lalang yang padat dan juga kesumpekkan pasar lama di pasar lama nampaknya  bisa  dibayar  dengan  gambar  super  besar  ini.  Di dalam gambar tersebut  ada seorang pria  yang  sedang  melompat  ke sungai Cisadane.  
 Photo By Aniq Tasia

Sungai  Cisadane dilambangkan dengan warna biru cerah, dengan background gambar tersebut juga berwarna biru. Seakan memang dipasang untuk memberi sebuah kejutan di balik padat dan macetnya kawasan Pasar Lama. Aku memandangi gambar itu mulai dari satu persatu lekukan, dan seperti terbawa suasana  mengingat  lompatan  demi  lompatan  dari  pinggiran  sungai Cisadane. Melompat  dan tertawa mengikuti suara  hati,  anak-anak polos  yang tak  pernah takut  untuk melompat.  Entah berapa meter dalamnya sungai  ini, yang pasti melompat dan berenang disungai Cisadane siang hari memang asik.
Photo By Aniq Tasia

Seni yang sebelumnya selalu kukira berada di dalam sebuah gedung dan bersekat-sekat tinggi sesuai selera, ternyata dapat dinikmati oleh publik yang luas. Tidak peduli apakah dia sekolah ataupun tidak, tidak peduli apakah dia mengerti seni ataupun tidak. Sangat indah sekali, seperti bermain drama di atas sebuah gambar yang besar itu. Mengikuti aliran sungai Cisadane yangselalu mengalir tenang, bersama dengan warga pinggiran sungai Cisadane, ditambah lagi jika sedang  berlangsung  perayaan-perayaan  yang  memang  dirayakan  di atas  sungai  ini.

Seperti perayaan Peh Tjun, yang digambarkan di tembok sebelahnya. Berwarna merah dan memiliki keruncingan  di  ujungnya  masing-masing.  Sebuah gambar  perahu,  yang  sebenarnya  aku pun belum  pernah  merasakan bagaimana  menaikki  perahu  itu,  tapi  tiba-tiba  saja  terbayang  dipikiranku orang-orang  ramai  berada  di  pertengahan  sungai  sedang  berlomba mengayuh dayungnya,  berlomba untuk berjalan paling depan. Dari  kawasan pasar lama ini  aku belajar banyak sekali tentang Tangerang, khususnya tentang budaya seni yang ada di kota ini.

Photo By Aniq Tasia
Tidak puas dengan gambar yang bercerita satu kisah saja, aku melangkahkan kakiku ke daerah atau lokasi graffiti dan mural yang berada di dekat perapatan sinta. Sepanjang perjalanan yang berisi tembok itu penuh sekali dengan gambar-gambar para seniman tangerang. Karya seni disini lebih beragam lagi, banyak dari mereka (bomber) yang menggambarkan dan menuliskan sebuah tulisan berbentuk kritik pada pemerintah. Mereka benar-benar memanfaatkan tembok untuk sesuatu yang sangat berguna, untuk membela dan memperjuangkan hak-hak sebagai rakyat. Sepertinya, komunitas seni yang menggambarkan objek ini paham betul dengan permasalahan yang dialami oleh kota Tangerang, sehingga pesan-pesan yang ada di tembok itu juga sangat spesifik dan berani. 
Kebudayaan dan juga politik sudah dapat dirangkum di atas sebuah dinding yang luas. Pekerja seni yang membuat gambar tersebut benar-benar berpengetahuan luas dan juga tidak sempit, mereka memandang bahwa seni bukan lagi semata-mata harus selalu tinggi, karena memang dasarnya seni bisa memiliki arti, tergantung dari persepsi masing-masing orang. Seni bukan lagi semata-mata bicara mengenai luas kanvas yang terbatas, tapi bagaimana menggunakan tembok yang besar sebagai medium untuk berkomunikasi dan bercerita bahwa Tangerang adalah sebuah kota dengan sejuta cerita dan Tangerang adalah sebuah kota dengan sejuta kenangan yang dapat membuat kita candu untuk datang kembali.

Selasa, 23 Oktober 2012

Lesung pipi Jul



SEPI itu ketika setiap detakkan jam dinding dapat kudengar dengan jelas. Sepi itu sebuah hampa yang tidak dapat aku tembus dengan kesendirian. Sepi itu adalah ketidakadaan suasana mendukung untuk menjadi bahagia, sepi itu pilu.
Ruangan kamarku ini masih sama seperti 2 tahun yang lalu ketika aku meninggalkannya. Masih memiliki 1 kasur, 1 lemari besar,4 buah kaca di setiap sudut ruangan, sebuah meja kecil untuk barang-barangku, dan sebuah meja rias tepat di depan kasur. Kamar ini masih saja berwarna biru muda dengan wallpaper doraemon dari setengah  tembok ini. Kasur kayu yang sudah 15 tahun ada di rumah ini. Mama sengaja tidak memindahkan barang-barang ini karena ini adalah identitas diriku. Mereka bilang aku seperti anak-anak, tapi inilah aku. Aku tumbuh menjadi remaja dengan latar belakang aku masih menjadi anak-anak.
Ada yang baru di kamar ini setelah aku meninggalkannya cukup lama. Ada sebuah lukisan di sebelah lemari bajuku. Lukisan tersebut mungkin dibawa Reina, anak pembantuku yang menempati kamarku selama aku di Bandung. Lukisan itu adalah seseorang yang memiliki hidung mancung, bibir tipis, mata besar dan bulat, dan bulu mata lentik serta memiliki lesung pipi di pipi sebelah kanannya. Itu yang unik. Ia hanya memiliki 1 lesung pipi di pipinya. Aku tersenyum melihatnya. Wajah yang cantik, ah tidak ia tampan. Apakah ia masih hidup? Ataukah ia adalah kekasih dari Reina? Ah beruntung sekali reina memiliki kekasih seperti ia. Sedangkan wajah reina tidak secantik wajahku .
            Tubuh yang lelah ini sengaja kurebahkan pada kasur berwarna biru tua. Sambil membayangkan wajah itu, aku tebawa pada suasana malam itu. Malam yang dingin dengan kamarku juga yang sangat dingin. Terasa pelukan hangat dari sampingku. Halusinasi. Hanya halusinasi yang mengantarku tidur pulas dengan kelembutan.
***
            Dalam sebuah taman fantasi, aku menemukannya terbaring dalam balutan jubah putih. Dengan tudung putih. Wajah itu pucat, matanya tertutup, bibirnya kering, dan hidungnya bergantian menarik dan menghela nafas. Beberapa detik kemudian ketika aku mendekati tubuh yang tergeletak begitu saja di bawah pohon berwarna ungu ia mencoba untuk membuka matanya. Terlihat ia kesulitan dalam membuka sepasang mata indah itu. Aku menemukan sebuah keindahan dalam wajahnya.
            Ia terbangun dan menatapku takut. Aku tidak tahu apakah ia seorang laki-laki ataukah seorang wanita. Tidak ada yang jelas bisa kulihat dari balik balutan jubah putihnya itu. Tangannya bergerak sedikit demi sedikit memeriksa suhu pada lehernya. Ia sangat pucat. Kalaupun ia wanita tidak ada bekas lipstik, bedak, eyeliner, ataupun blush on pada wajahnya. Pucat. Seperti mayat baru mati.
            “siapa kau?” Ia seperti ketakutan melihatku memperhatikannya terus menerus.
            Aku terkejut karena balasannya atas tatapanku yang kurasa sudah terlihat sangat memberikan rasa iba. “aku June. Aku melihatmu di samping lemariku?” tidak lupa aku bertanya padanya masalah lukisannya yang terletak di sebelah lemariku.
            “kau tidak perlu tahu siapa aku, June. Aku juli” jawabnya
            “nama kita sama?”
            “hampir sedikit saja” ia mulai membuatku nyaman dengannya. Wajahnya mulai menunjukkan kalau ia juga sudah membuka hatinya untuk berkawan denganku. “ini tempat tinggalku. Tempat tinggal keluarga dan kerabatku” ia memperkenalkan asalnya.
            “loh? Aneh. Aku tidak pernah tau di mana ini? Apa ini di bumi? Mengapa pohon ini berwarna ungu? Mengapa sungai itu berwarna merah pekat?” aku menunjuk suatu sungai pada Jul. Sungai yang kira-kira berada 5 meter di depanku itu berwarna merah pekat. Seperti darah yang mengalir di dalam sungai.
            “ikut aku” ia mengajakku dengan menggenggam tanganku. Terasa sebuah getaran kecil di dadaku. Genggaman tangan seorang laki-laki. Membuatku nyaman dan aman. Membuatku terbawa suasana dan menuruti makhluk yang baru pertama kali kutemui ini.
            Jul membawaku pada satu daerah yang aneh. Entah di mana itu. Wanita di sana berjubah putih semua. Mereka selalu melotot tapi mereka manusia. Aku meyakinkan itu dalam hatiku. Mereka adalah manusia sama sepertiku. Walaupun hatiku berkata berbeda. Rumah Jul adalah satu-satunya rumah yang mewah di sana. Tidak ada seorangpun di rumahnya. Ia tinggal seorang diri tanpa orang tua dan saudara. Rumahnya sepi tapi ramai. Aku tidak dapat mendeksripsikan keramaian apa itu. Yang kutangkap ada sebuah suara desiran ombak.
            Aku tidak akan bertanya pada Jul suara apa itu. Aku hanya akan membuatnya menertawakan kebodohanku. Pertanyaan yang bagiku penting akan tidak terlalu penting jika harus ditanyakan pada makhluk ini.
            “ayo kita keliling kota” Jul mulai dengan pernyataan idiotnya. Ia tahu aku begitu lelah untuk mencapai rumahnya ini. Tapi sekarang ia mengajakku untuk berkeliling kota kembali. Yang kulihat,tidak ada satupun kendaraan di jalan tadi. Semuanya pergi menggunakan kedua kakinya masing-masing.
            “kau gila jul! Aku lelah. Aku butuh istirahat.”
            “tidak ada kamar lebih” jul membantah.
            “aku tidur di kamarmu”
            “tidak!” bentak Jul cukup keras. Aku mulai merasakan suatu yang beda. Aku yakin pada satu pandanganku terhadap Jul. Keyakinan awalku melihatnya.
            Suara jul adalah satu-satunya suara yang terdengar begitu di dunia. Tidak seperti laki-laki tapi tidak seperti perempuan juga. Suaranya melengking namun tidak lembut. Suaranya membuatku penasaran siapa makhluk ini.
***
            Terbangun aku ketika sang mentari menyinarkan pancaran cahaya pada bumi ini. Bumi di mana semua makhluk aneh berada. Aku berada dalam sebuah kamar bercat putih, tempat tidur putih, lemari dengan warna putih pula, dan sebuah pembatas ruangan bergorden putih. Ada suara gemercik air di balik gorden itu. Seseorang sedang mandi di balik gorden itu. Pasti Jul. Aku tidak seberani itu untuk mengintip Jul mandi. Kalau ia adalah wanita mungkin ia bisa maklum, namun jika ia seorang pria, penjelasan apa yang harus kuberikan padanya?
            Seorang yang memakai handuk setengah badan keluar dari ruangan yang ternyata kamar mandi tersebut. Rambutnya hanya 3 cm dengan badan yang berisi tapi tidak terlalu gemuk. Ia adalah Jul tanpa jubah dan penutup kepalanya.
            Ia melihatku dengan ekspresi seakan-akan aku mengintipnya mandi, ia menutup wajahnya dan mencari jubah beserta penutup kepalanya. Ia benar-benar aneh.
            aku mendekatinya dengan langkah penasaran. Jul benar-benar membuatku gila! Hanya ingin melihatnya saja aku harus berjalan pelan tanpa suara. Ia masih sibuk dengan pencarian jubahnya. Ia lupa menaruhnya di samping tempat tidurnya yang jaraknya lebih dekat padaku.
            “jubahmu?” tanyaku mengayunkan leherku dengan senyuman super lebar. Membuat makhluk itu kaget dan menutup wajahnya malu.
            “tutup matamu june!” bentak laki-laki itu malu.
            Jarakku lebih kudekatkan padanya. Jemari-jemarinya itu kini telah kugenggam kencang. Matanya tertutup sama seperti pertama kami bertemu. Ia tidak berani menatapku yang hanya memakai atasan kemeja kebesaran dan celana pendek yang lebih terlihat aku tidak memakainya.
            “jul, aku hanya ingin lihat dirimu.” Pintaku padanya dengan rayuan maut mataku ini. Ketika ia membuka matanya aku mulai memainkan mataku yang kebanyakan orang bilang keindahan ini.
            Ia menatap mataku dan luluh pada sepasang mata indah ini. Jul menyerahkan keindahan dirinya padaku untuk aku perhatikan. Ingin rasanya aku memeluk tubuh itu. Jul masih saja pada kedataran wajahnya.
            Aku melepaskan genggamanku dan tersenyum pada makhluk ini. Ia tersenyum lembut padaku, sebuah lesung pipi di pipi kanan Jul membuatku mabuk kepayang. Lesung pipi itu yang membuatku terbang ke angkasa menembus awan. Lesung pipi itu yang membuatku masih ingin tertidur seperti ini.
***
            Tersadar bahwa ini semua hanya mimpi dan ketika aku terbangun aku ada dalam suatu kamar berwarna biru. Bukan kamar berwarna putih. Kamar yang kerap kulihat dalam hari-hariku. Tanpa seorang Jul.
            Mataku masih mencari-cari jejak Jul. Lukisan itu pecah berantakan. Berserakan bagaikan sampah masuk ke dalam tempat sampah kecil di kamarku. Kurapikan kembali lukisan itu.
            Kurapihkan dan kususun lukisan itu seperti semula. Ada satu titik di lukisan ini yang hilang. Lesung pipi Jul. Aku mencari nya dalam semua tempat di kamarku. Setiap sudut aku bedah. Semuanya. Lesung pipi Jul hilang.
            aku tenggelam dalam kesedihan dan kehilangan sosok yang membuatku merasakan beda dalam setiap desiran darahku, setiap detakkan jantungku, dan setiap hembusan nafasku. Tidak berhenti aku terdiam melamun pada waktu bulan menari di atas sana bersama dayang bintang.
            “jun” sesosok yang kucari berdiri di sebelah lemari. Ia tersenyum dengan sebuah lesung pipi di sebelah kanan pipinya. Ia memberikan tangan kanannya. Jul menggunakan jubah putihnya tanpa penutup kepala. Aku memeluknya erat. Kupejamkan mataku sebagai bentuk aku sedang khusyuk dalam kehangatan sebuah pelukan.
***
            Aku berada pada kamar putih itu lagi! Kamar yang semua isinya berwarna putih. Ketika ku terbangun kali ini di kamar ini ada Jul yang masih memelukku erat dalam lelap tidurnya. Mungkin ini malam hari di dunia yang berbeda ini. Jul selalu ingin mengajakku untuk bermain di luar sana. Berjalan-jalan keliling kota sekedar memamerkan kota tempatnya tinggal.
            “jul” aku memandang wajahnya dari dekat sekarang. Lesung pipi itu, aku telah menemukannya sekarang. “jul bangun” aku mencoba untuk membangunkannya.
            Sudah hampir 3 jam aku mencoba membangunkan Jul. Ia tetap terpejam. Dalam pelukanku. Ia tetap terpejam walau suaraku hampir habis memanggil namanya. Jul.
            Air mata ini semakin hangat membasahi pipi. Jul tidak akan bangun, tidak untuk selama-lamanya. Dan ketika aku membuka mataku perlahan aku ada dalam sebuah kamar biru. Bukan kamar putih lagi.
***
            Pertama yang kulihat dan kudengar adalah John dengan hardikannya yang membuatku takut. Aku tertidur beberapa jam dengan tanpa sehelai benangpun di tubuhku. Ia mencoba membunuhku dengan tatapan tajamnya dan tusukan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
            Setiap ia mengeluarkan pisau aku selalu tertidur dan merasa tenang dengan kegelisahanku ini. Setiap hari yang kurasakan adalah ini. John selalu ingin membunuhku di waktu pagi, siang, dan malam. Ia adalah pilihan tidak tepat orang tuaku untuk menjadikannya suamiku. Aku sama sekali benci John. Dia ingin membunuhku! Di kantongnya selalu ia menyembunyikan pisau belati. Entah apa yang membuatku selaku tertidur ketika ia ingin membunuhku.
            Aku ingin bersama mu di sana. Aku merindukanmu dalam setiap hembusan nafasku, dalam setiap detakan jantungku, dalam setiap langkahku, dalam setiap halusinasiku padamu. Mungkin sekarang kau pergi, namun suatu saat nanti jika kau kembali padaku aku tidak akan pernah melupakanmu. Dalam setiap pikiranku, aku mencintaimu, JUL.
***
Tangerang, 20 oktober 2012
Pada tengah malam yang dingin